Lebih lanjut Al Talarik mengatakan, Selain itu ada tuntutan terkait dengan gaji honorer. Dimana karyawan MBG yang akan diangkat menjadi P3K padahal belum genap setahun bekerja. Sedangkan para guru honorer sudah bertahun- tahun bekerja tapi, gajinya masih sama saja.
Tuntutan lain soal bencana penanganan wilayah Kota Tegal yang lokasinya berada di hilir. Banjir di kota sudah mulai dari hulu dengn persiapan yang belum matang.
Menyinggung program MBG Al Talarik menyebutkan bahwa anak-anak hanya dikasih porsi Rp 10.000. "Kita lihat anak-anak itu hanya dikasih porsi Rp 10 ribu sedangkan mereka para kapital itu menerima jutaan rupiah per harinya," terangnya.
Ada satu kasus di Tegal MBG itu dikasih menu nasi lengko. Jadi nasi lengko itu makanan yang penting kenyang bukan bergizi. "Artinya efisiensi yang diuntungkan adalah pemilik modal. Itu faktanya," ujar Al Talarik.
Aksi mahasiswa diterima oleh Ketua DPRD Kota Tegal, KRT Kusnendro ST, Kapolres Tegal Kota AKBP Heru Antariksa Cahya, Sekda Kota Tegal drg Agus Sulistyantono MM, Wakil Ketua DPRD Kota Tegal H Wasmad Edi Susilo SH, dan Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Tegal Bagas Satya Indrana.
Aksi berlangsung dengan diskusi dua arah. Dalam diskusi aksi mahasiswa membentangkan spanduk bertuliskan diantaranya, Maling Berkedok Gizi, Polri Pembunuh, Pendidikan Dicekik Negara. Aksi mahasiswa berkahir saat waktu buka puasa berjalan tertib dan damai.
Editor : Rebecca
Artikel Terkait
