Puluhan Jamban Terbuka di Kota Tegal Warnai Proses Verifikasi STBM Award 2026
KOTA TEGAL, iNewsTegal.id - Pemerintah Kota Tegal optimistis dapat meningkatkan predikat Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dari kategori Pratama menuju Madya pada 2026.
Optimisme tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Tegal Tazkiyyatul Muthmainnah alias Mba Iin usai proses verifikasi STBM Award 2026 di Kominfo Komplek Balai Kota Tegal, Kamis (10/9/2026) lalu.
Mba Iin menyampakan, capaian pilar pertama STBM yakni Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF) telah mencapai 100 persen sejak 2021 di seluruh kelurahan.
Untuk pilar lainnya terus ditingkatkan, meliputi cuci tangan pakai sabun 94,03 persen, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga 93,99 persen, pengelolaan sampah 77,97 persen, serta pengelolaan limbah cair rumah tangga 69,99 persen.
Pemkot Tegal, kata Iin, terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk melalui program jamban sehat, penguatan bank sampah serta edukasi perubahan perilaku masyarakat.
Sementara kondisi di lapangan seperti di wilayah RW 03 Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, masih ditemukan warga yang masih menggunakan jamban terbuka diatas aliran sungai (helikopter).
Ketua RW 03 Kelurahan Muarareja Kecamatan Tegal Barat, Supendi menyebutkan masih terdapat sekitar 10 jamban terbuka di bantaran sungai yang masih digunakan warga untuk buang air besar.
Dari sekitar 400 kepala keluarga, sebagian masih bergantung pada fasilitas tersebut. Bilik kakus di atas sungai yang lebih dikenal sebagai 'helikopter' masih ada di wilayah RW 03 Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal terutama di RT 01, 02, 03, 04.
“Di sini masih ada yang buang air besar di sungai, mungkin sekitar 10 jamban. Untuk yang belum punya jamban di rumah, saya belum tahu jumlah pastinya karena saya juga baru menjabat,” terang Pendi, Kamis (17/9/2026).
Camat Tegal Barat, Teti Kirnawati membenarkan keberadaan jamban terbuka diatas aliran sungai tersebut. Dia menyebut, praktik serupa sebelumnya juga ada di Kelurahan Tegalsari, namun sudah dibongkar dan teratasi.
“Yang masih ada itu di Muarareja. Kendalanya, wilayah ini sering terdampak banjir rob sehingga septik tank cepat penuh. Sebenarnya sebagian warga sudah punya jamban, tapi tidak bisa digunakan optimal,” jelasnya.
Menurut Teti, kondisi geografis membuat sebagian warga kembali memanfaatkan jamban di sungai. Meski demikian, pihak kecamatan terus melakukan sosialisasi agar masyarakat tidak lagi buang air besar sembarangan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tegal, M Zaenal Abidin menambahkan, perubahan perilaku hidup bersih dan sehat memang tidak mudah. Pihaknya terus melakukan penyuluhan, namun hasilnya sangat bergantung pada kesadaran masyarakat dan kondisi lingkungan.
“Upaya sudah dilakukan, tapi kembali lagi ke perilaku masyarakat dan kondisi wilayah,” ucap Zaenal.
Editor: Rebecca