Akibat penyerangan menggunakan benda tumpul seperti gesper, helm, dan lainnya di sekujur tubuh korban mengalami luka. "Kita sudah melakukan visum pada Jumat (31/7/2026) malam di Rumah Sakit Mitra Siaga," terang Jefri.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal, Dewi Umaroh usai pertemuan menyampaikan, bahwa dirinya baru mendapat info tersebut. "Insya Allah nanti saya laporkan ke pimpinan dan supaya dibentuk Satuan Tugas (Satgas) yang melibatkan Dinas Pendidikan baik Kota maupun Cabang Dinas Provinsi Jawa Tengah, pihak Kepolisian, dan Satpol PP. Satgas nantinya akan keliling diwaktu tertentu yang tidak diketahui oleh anak-anak," kata Dewi Umaroh.
Dewi berada ada di sekolah Mutu untuk koordinasi karena ada laporan, bagaimana duduk permasalahannya. "Rupanya ini kegiatan negatif yang turun-temurun. Jadi ini melibatkan almuni. Tadi saya menyampaikan kepada Kepala Sekolah supaya ini di cut jangan ada lagi pengkaderan hal yang negatif," terang Dewi.
Persoalan tersebut kata Dewi sepertinya sudah ada mediasi malah melibatkan pihak kepolisian. Sebenarnya antar guru masing-masing sekolah baik-baik saja, cuma siswa-siswanya perlu pantauan lebih ketat lagi. "Misalnya sudah baik-baik, secara kekeluargaan orangtua juga kami minta supaya dihadirkan juga karena ketika siswa sudah diluar menjadi tanggung jawab orang tua. Kalau mereka sudah baik-baik saja saya kira cukup disini. Tapi ini akan menjadi efek jera bagi mereka semua," tutup Dewi.
Terpisah Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 1 Kota Tegal, Neneng Fitria Sari, membantah adanya kegiatan konvoi rutin setiap Jumat di sekolahnya. "Cuma kebetulan saja mungkin ya," kata Neneng.
Editor : Rebecca
Artikel Terkait
