Lebih lanjut Bayu mengatakan di tingkat Provinsi, Jawa Tengah menyumbang 10,98 persen dari jumlah investor pasar modal nasional dan berada di peringkat keempat di Pulau Jawa. "Kondisi tersebut menunjukkan semakin luasnya partisipasi masyarakat Jawa Tengah dalam pasar modal," ujarnya.
Di sisi lain kata Bayu perkembangan pasar modal domestik pada semester pertama 2026 masih menghadapi berbagai dinamika global dan domestik. Memasuki semester kedua, perbaikan sentimen risiko mendorong pemulihan pasar saham domestik, disertai meredanya tekanan jual investor asing. Namun, risiko eksternal masih menjadi faktor yang perlu dicermati.
OJK menilai sejumlah indikator pasar modal dalam negeri tetap terjaga positif. Likuiditas pasar saham masih terjaga, sementara penghimpunan dana korporasi terus berlangsung dengan penerbitan surat utang masih menjadi salah satu pilihan utama.
Valuasi saham yang atraktif serta fundamental emiten yang tetap terjaga juga menjadi katalis bagi pemulihan pasar modal ke depan. Pertumbuhan jumlah investor tersebut diharapkan diikuti dengan peningkatan literasi dan pemahaman masyarakat mengenai investasi yang aman dan sesuai profil risiko.
"Dengan demikian, semakin banyak masyarakat yang dapat berpartisipasi di pasar modal secara bijak dan berkelanjutan," ujarnya.
Editor : Rebecca
Artikel Terkait
