Meski ada larangan karena zona rawan, Uripin beralasan karena tidak ada pilihan lain. Pasca bencana pada Februari lalu, keluarga Uripin tidak mendapat kejelasan soal penempatan huntara.
"Kalau perasaan takut tetap ada. Tapi gimana lagi tidak dapat huntara. Sementara saya kasihan anak anak harus bolak balik. Terus mau sampai kapan berharap bantuan," ujar Uripin.
Warga terdampak lain, Lamun Hasim (75) menyebutkan, sebagai penyintas sebenarnya sudah mendapat jatah huntara. Namun, bagian dia diserahkan ke adiknya yang tidak mendapatkan huntara. "Dapat huntara tapi dipakai adik saya yang tidak dapat. Karena itu Saya membangun lagi di sini," ucap Hasim. Hasim mengaku tidak takut jika sewaktu waktu bencana serupa kembali terjadi. Baginya, pergerakan tanah sudah terbiasa dialaminya sejak dulu. "Sudah biasa disini. Dari dulu tanah gerak sering terjadi. Sudah biasa," aku Hasim.
Kades Padasari, Mashuri mengakui, masih ada ratusan keluarga penyintas yang belum mendapat huntara. Data yang dimiliki, jumlah KK yang terdampak mencapai 900 KK sedangkan yang mendapat huntara baru 456 KK. Untuk sisanya sebanyak 444 KK masih dalam pendataan pihak terkait.
"Sementara yang dapat 456 keluarga, sisanya belum. Alasannya tanah yang akan digunakan itu rawan longsor, jadi kemungkinan akan langsung diberikan huntap (hunian tetap)," jelas Mashuri.
Editor : Rebecca
Artikel Terkait
